Hari , bulan, dan tahun terus berganti. Kini aku sudah
kuliah tujuh semester di jurusan jurnalistik. Bundaku sering bertanya kepadaku
tentang aku yang setiap malam selalu mengurung diri di kamar hingga setiap pagi
bunda selalu melihat ku dalam keadaan laptop di hadapanku. Selama tiga tahun
ini, memang aku terlalu serius mengerjakan skripsi yang harus diselesaikan satu
semester lagi. Setiap malam, aku selalu behadapan dengan tugas-tugas yang
terpancar di layar laptop sambil menunggu e-mail masuk dari Rezky, namun sudah
beberapa bulan dia tak pernah mengirimkan e-mail lagi padaku, ah mungkin dia
sibuk dengan kuliahnya pikirku.
Senja menjelang malam ini, hujan turun deras. Aku
mengingat sesuatu akan kenangan yang pernah dilalui.Aku merasakan getaran hati
tanda mengingat seseorang. Apakah aku terserang virus ‘rindu’ lagi? Ah itu
mustahil! Aku tidak ingin terserang ‘rindu’ lagi! Virus ‘kerinduan’ itu sangat
menyakitkan. Aku hanya bisa berharap orang itu ada disisiku sekarang dan aku
tahu itu mustahil untuk terwujudkan. Akupun segera memulai kembali kebiasaanku
tiap malam, menyalakan laptop, menyambungkan modem, dan mengecek email masuk.
“key, hari
ini aku pulang ke indonesia.Landing jam 8 malam. ”
kulihat jarum jam menampakkan sebuah sudut tumpul dengan tanda pukul 7 lewat 15 menit.
kulihat jarum jam menampakkan sebuah sudut tumpul dengan tanda pukul 7 lewat 15 menit.
“bunda, aku
mau ke bandara jemput Rezky”
akupun segera keluar kamar lalu memakai jaket dan membawa payung ke luar rumah mencari taksi terburu-buru.Entah mengapa jantungku terus berdebar kencang tiada henti. Tak biasanya aku menjadi tidak santai begini.sesampainya di bandara, dengan cepat aku menuju pintu keluar penerbangan internasional. Aku terlalu sulit untuk menuju pembatas besi karena terdesak para penjemput. Sekitar duapuluh menit aku berdiri di hadapan pintu keluar tepat di pembatas penjemput, suasana terasa sepi. Ku lihat seorang ibu sambil menggendong seorang balita yang sedang menjilat sebuah lolipop agak jauh di sebelahku, akupun menghampiri wanita itu dan memulai percakapan dengannya. Ternyata ibu itu sedang menunggu anak gadisnyanya yang baru pulang study dari jepang. Tak lama kemudian seorang gadis yang di maksud itu menghampiri kami. Lalu ia pun memeluk dan mencium ibunya seta bocah kecil itu. Kini suasana di bandara bagian pintu keluar sudah menyepi. Karena merasa lelah, akupun duduk di kursi yang tersedia. Ku lihat jam di ponselku menunjukkan pukul 20.45 . Tiba-tiba seorang laki-laki berkacamata menggenggam kopernya berdiri di hadapanku yang sedang duduk.
akupun segera keluar kamar lalu memakai jaket dan membawa payung ke luar rumah mencari taksi terburu-buru.Entah mengapa jantungku terus berdebar kencang tiada henti. Tak biasanya aku menjadi tidak santai begini.sesampainya di bandara, dengan cepat aku menuju pintu keluar penerbangan internasional. Aku terlalu sulit untuk menuju pembatas besi karena terdesak para penjemput. Sekitar duapuluh menit aku berdiri di hadapan pintu keluar tepat di pembatas penjemput, suasana terasa sepi. Ku lihat seorang ibu sambil menggendong seorang balita yang sedang menjilat sebuah lolipop agak jauh di sebelahku, akupun menghampiri wanita itu dan memulai percakapan dengannya. Ternyata ibu itu sedang menunggu anak gadisnyanya yang baru pulang study dari jepang. Tak lama kemudian seorang gadis yang di maksud itu menghampiri kami. Lalu ia pun memeluk dan mencium ibunya seta bocah kecil itu. Kini suasana di bandara bagian pintu keluar sudah menyepi. Karena merasa lelah, akupun duduk di kursi yang tersedia. Ku lihat jam di ponselku menunjukkan pukul 20.45 . Tiba-tiba seorang laki-laki berkacamata menggenggam kopernya berdiri di hadapanku yang sedang duduk.
“masih
ingat?” ucapnya sambil membenarkan kacamatanya.
“Rezky.....” akupun berdiri lalu memeluknya erat.
Dia terdiam, tak membalas pelukkanku, dan rasa pandangannya pun sudah sangat berbeda. Akupun kembali duduk, dan dia mendekatiku , setengah meruku dan menatapku, kepalaku sedikit menunduk meminta sesuatu.
Dia terdiam, tak membalas pelukkanku, dan rasa pandangannya pun sudah sangat berbeda. Akupun kembali duduk, dan dia mendekatiku , setengah meruku dan menatapku, kepalaku sedikit menunduk meminta sesuatu.
“Key, ada
yang beda?” tanyanya menatap mataku yang sedang mengharapkan
sesuatu.
“engga
ada..” jawabku sambil tersenyum dan terus melihatnya dengan tatapan malu.
“kenapa?” tanyanya
lagi.
“ga ada
salam kecupan hangat lagi?” tanyaku.
Rezky pun memegang kepalaku dan mencium dahiku. Akupun bahagia dan penyakit ‘rindu’ku hampir hilang karena pertemuan ini. Jam digital diponselku sudah menunjukkan pukul 21.00 , dan hujan pun belum reda. Rezky pun mengajakku ke tempat penungguan taksi. Kami pun menyebrangi jalan aspal tempat para kendaraan lewat. Karena hujan, Rezky pun melepaskan jaket yang ia kenakkan dan di letakkan di atas kepala kami berdua lalu berjalan. Beruntung masih ada satu taksi kosong yang tersedia ,dengan cepatnya kami segera menghampiri taksi yang hampir jalan itu. Di dalam taksi, Rezky begitu sangat cuek dan dingin. Aku menaruhkan kepalaku dipundaknya saja dia tetap diam.Taksi pun berhenti tepat di depan rumah Rezky. Aku tetap terdiam dalam taksi dan melanjutkan perjalanan menuju rumahku yang tak jauh dari rumah Rezky.
Rezky pun memegang kepalaku dan mencium dahiku. Akupun bahagia dan penyakit ‘rindu’ku hampir hilang karena pertemuan ini. Jam digital diponselku sudah menunjukkan pukul 21.00 , dan hujan pun belum reda. Rezky pun mengajakku ke tempat penungguan taksi. Kami pun menyebrangi jalan aspal tempat para kendaraan lewat. Karena hujan, Rezky pun melepaskan jaket yang ia kenakkan dan di letakkan di atas kepala kami berdua lalu berjalan. Beruntung masih ada satu taksi kosong yang tersedia ,dengan cepatnya kami segera menghampiri taksi yang hampir jalan itu. Di dalam taksi, Rezky begitu sangat cuek dan dingin. Aku menaruhkan kepalaku dipundaknya saja dia tetap diam.Taksi pun berhenti tepat di depan rumah Rezky. Aku tetap terdiam dalam taksi dan melanjutkan perjalanan menuju rumahku yang tak jauh dari rumah Rezky.
Lima hari berlalu.Sepulang dari kampus, aku sempatkan
datang ke rumah Rezky. Aku pun menekan bel dan berdiri tepat dihadapan pintu.
Lalu pintu pun dibukakan oleh seseorang.
“keisha?” sapa lelaki
berkacamata itu.
“Rezky..” balasku
sambil memeluknya tetapi ia tak lagi membalas pelukanku.
“Anterin aku
beli perlengkapan kuliah bisa kan?” pintaku.
“ayo..” ucapnya
dingin yang lalu mengambil kunci dan langsung menyalakan mesin motor.
Kami pun pergi ke toko buku dan peralatan kantor yang
biasa aku datangi sendirian setiap pulang kuliah.Aku dan rezky terpisah karena
sibuk melihat-lihat barang unik di toko buku itu. Selesai melengkapi
perlengkapan,rasanya aku ingin melihat koleksi kamera terbaru, akupun menuju
tempat kamera tertata rapi.Saat aku asyik melihat-lihat kamera yang tertata,
tiba-tiba seseorang menabrakku. Aku terjatuh lagi dalam pangkuannya, ya itu
Rezky si laki-laki berkacamata yang aku cintai sejak lama. Aku pun menunjukkan
sebuah kamera SLR yang unik. Namun saat aku lihat harganya membuatku lemas dan
sedikit bingung.
“Bagus ya
kamera ini...” ucapku sambil menunjukkan kamera yang di maksud.
“hmm.. iya..
kamu mau beli itu?” pertanyaannya membuat jantngku berdebar.
“ah..
tidak.. yuk ke kasir..” jawabku sambil berjalan.
“em.. key..
tunggu..” ucapnya dengan nada lembut ambil menahan langkahku dengan menggenggam
lenganku
“iya?” tanyaku
sambil menatapnya bingung.
“aku gak
bisa lama disini, aku harus pulang ke Jerman selesaikan kuliahku..” ucapnya
sambil tertunduk lalu ikut berjalan menuju kasir.
“ya jadi?” tanyaku
lagi sambil membayar.
Rezky pun terdiam. Dan kami pun keluar dari toko buku itu lalu ia pun mengantarkan aku pulang. Sesampainya kami di depan rumahku, ia menahanku lagi agar tidak pergi dulu.
Rezky pun terdiam. Dan kami pun keluar dari toko buku itu lalu ia pun mengantarkan aku pulang. Sesampainya kami di depan rumahku, ia menahanku lagi agar tidak pergi dulu.
“um.. key..”
“ya?”
“kapan kamu
wisuda?”
“entahlah.. mungkin
tahun depan..” ucapku..
“em..
key...”
“ya? Apalagi
ky?” tanyaku
lagi.
“hubungan
kita... sampai disini aja gapapa kan?”
Tiba-tiba detak jantungku melemah, badanku lemas bagai tak hidup untuk
merasakan sesuatu disekitar, jari-jari tangan mulai bergetar, tiba-tiba sebuah
air mengalir di pipiku, dan seketika pikiranku mulai hancur.
“ key, besok
aku pulang. Maaf sewaktu aku disana,aku jadi jarang ngasih kabar. Aku terlalu
sibuk dengan kuliahku. Key, em.. mungkin hubungan kita membuat kamu tersakiti
kan? Aku gak mau dengar kabarmu sakit.
Key , lebih baik kamu ga usah mikirin aku lagi kalau itu membuat kamu sakit.
Aku hampir saja mengabaikan kamu. Aku mau lebih fokus dengan kuliah ku. Key,
maaf.. hubungan kita cukup sampai disini aja.” Ucap Rezky.
Puluhan air mata terus mengalir tiada henti. Rezky pun menari lenganku lalu
memberi kecupan di dahiku.
“bye
keisha..” ucapnya
yang langsung menyalakan mesin motor lalu pergi begitu saja.
Sekarang aku tahu mengapa dari awal dia pulang kesini
perasaannya sangat dingin. Ternyata dia membawa cinta yang dingin. Aku sempat
merasakannya. Cinta memang datang dan pergi secara tiba-tiba, tak mengenal
tempat dan waktu. Lama ku pikir, dalam cinta itu tak ada penyesalan. Penyesalan
atas pernah mengenal dan terjatuh pada buaian cinta. Aku tak pernah menyesal
mengenal dia, bukankah perkenalan itu hal yang menyenangkan? Tetapi mengapa
banyak insan yang menyesal setelah putus cinta atas perkenalan?. Putus itu bukan
akhir bagian dari kebersamaan. Walaupun tidak ada hubungan spesial,bukankah
masih bisa menjadi teman atau sahabat? Aku percaya itu. Aku tidak pernah
sia-sia memikirkan dia walau dia tidak memikirkan ku di sana. Cinta memang bisa
membuat sakit, tetapi sakit itu hanya bisa disembuhkan dengan cinta itu lagi.
Benar, aku sakit, lebih dari sakit karena terserang virus ‘rindu’.Tahun telah
berganti, delapan semester kuliah telah aku lalui. Hari ini aku wisuda. Kemarin
tante franda sempat bilang padaku kalau
keluarganya tidak bisa hadir karena akan pergi ke jerman karena Rezky wisuda di
lusa nanti.Sebelumnya aku sempat magang di sebuah stasiun televisi. Dan
akhirnya aku diterima sebagai reporter setelah mendapat ijazah kuliah S1.Beberapa
minggu ini aku selalu sibuk berpergian keluar kota untuk mewawancarai
sumber-sumber berita dan juga untuk penayangan.
Setelah aku sukses mendapat penghargaan, aku memutuskan untuk merayakan keberhasilanku dengan teman-teman masa SMA ku di sebuah cafe tempat Melani berkerja. “hampir 4 tahun loh kita gak ketemu..” ucap Shandra sambil memelukku.
Setelah aku sukses mendapat penghargaan, aku memutuskan untuk merayakan keberhasilanku dengan teman-teman masa SMA ku di sebuah cafe tempat Melani berkerja. “hampir 4 tahun loh kita gak ketemu..” ucap Shandra sambil memelukku.
“iya.. eh,
keisha.. pacarnya mana?” tanya melani
akupun tertunduk dan terdiam, seketika suasana menjadi hening.
akupun tertunduk dan terdiam, seketika suasana menjadi hening.
“aku..
aku... udah ga punya pacar..” jawabku.
Semua teman-teman ku saling berbahagia, adapula yang membawa kekasihnya masing-masing. Sepertinya mereka merasakan kehangatan dan tidak sepertiku yang selalu kedinginan.Tiba-tiba seseorang duduk disampingku menyembunyikan pandangannya. Aku merasa sedikit keraguan antara tidak mengenali dan lupa dengan lelaki ini. Lalu ia pun menggulurkan tangannya padaku lalu mencium pipiku dan memberi ucapan selamat atas keberhasilanku. Lelaki itu berkacamata.
Semua teman-teman ku saling berbahagia, adapula yang membawa kekasihnya masing-masing. Sepertinya mereka merasakan kehangatan dan tidak sepertiku yang selalu kedinginan.Tiba-tiba seseorang duduk disampingku menyembunyikan pandangannya. Aku merasa sedikit keraguan antara tidak mengenali dan lupa dengan lelaki ini. Lalu ia pun menggulurkan tangannya padaku lalu mencium pipiku dan memberi ucapan selamat atas keberhasilanku. Lelaki itu berkacamata.
“Selamat
yang udah sukses..” ucapnya
padaku.
“Rezky?
Kapan pulang?”
“dua minggu
yang lalu Key.. aku cari kamu, tapi kamu selalu ga ada.”
Kami pun berbincang lama. Saat pulang pun ia mengajakku pulang bersama menaiki mobilnya.
Seketika mobil itu berhenti tepat di danau yang banyak terdapat kenangan masa lalu.
Kami pun berbincang lama. Saat pulang pun ia mengajakku pulang bersama menaiki mobilnya.
Seketika mobil itu berhenti tepat di danau yang banyak terdapat kenangan masa lalu.
“em.. key..”
“ya?”
“jujur,
selama empat tahun disana,aku ga bisa berhenti mikirin kamu. Aku udah berusaha
sekuat mungkin lupain kamu dari hari-hari ku tapi nyatanya sangat sulit.
Bayangan kamu selalu menggangguku, dan ternyata benar aku memang tak bisa
berhenti memikirkan kamu. Aku butuh kamu key untuk menyembuhkan luka ini.” Jelasnya.
“terus?” tanyaku.
Rezki pun mendekatiku ingin memberi satu kecupan di dahiku. Aku menjauh tanda menolak.
Rezki pun mendekatiku ingin memberi satu kecupan di dahiku. Aku menjauh tanda menolak.
“tunggu ky,
kamu jangan seenaknya begitu.” Jelasku memalingkan wajah darinya.
“kenapa
key?”
“kamu itu
udah seenaknya aja mempermainkan cinta. Ingat, cinta bukanlah mainan yang bisa
kau perbaiki kapan saja. dan aku bukan boneka yang bisa dimainkan olehmu. Kamu
itu pergi saat aku membutuhkan kamu, artinya kamu pergi saat aku terluka dan
membuat luka itu benjadi besar. Dan sekarang, sekarang kau datang kembali di
saat aku sudah sukses dan bahagia. Kalau nanti kau datang dikehidupanku lagi,
apa kau akan pergi lagi? Aku tak mau itu terjadi.Apa aku akan menerimamu dengan
begitu saja? Aku ini butuh waktu.aku tak mau lagi diberi harapan.” Jelasku.
“maaf key..,
tapi jujur aku meninggalkan kamu itu agar aku bisa fokus dengan kuliah ku. Dan
ternyata tetap saja aku tidak bisa melupakanmu.” Ujar Rezky.
aku terdiam, seketika suasana menjadi hening. Sebenarnya aku tak mau dia pergi lagi jika aku kembali bersamanya.
aku terdiam, seketika suasana menjadi hening. Sebenarnya aku tak mau dia pergi lagi jika aku kembali bersamanya.
“janji gak
akan ninggalin aku?”
“selamanya
aku ingin bersamamu..” jawabya.
“oke.. tapi
jangan mempermainkan aku seperti boneka lagi.” Jawabku.
rezky pun mengecup pipiku dan memelukku di dalam mobilnya.
*
rezky pun mengecup pipiku dan memelukku di dalam mobilnya.
*
Bulan demi bulan telah aku lalui dengan kesibukkan
sebagai reporter juga aku tak lupa membagi waktu untuk berdua dengan Rezky.
Tahun telah berganti. Yang namanya hubungan walaupun sempat putus tetap di
hitung bukan? Aku rasakan bahwa hubunganku dengannya sudah hampir menginjak 5
tahun semenjak masa SMA. Saat jam istirahat, ponselku berdering dan langsung
aku angkat panggilan itu.
“key,
ketemuan di cafe tempat melani kerja ya..” ucap Rezky di balik telepon itu.
“iya ky,
pasti kok dateng..” jawabku.
“eh key,
kata manager hari ini kita pulang lebih awal..” ucap salah seorang temanku yang
juga sebagai reporter menghampiriku.
Sepulang aku kerja, akupun menuju tempat Melani
berkerja dan sedikit berbincang dengannya. Dan akhirnya melani pun harus pergi
meninggalkan ku karena mengantar pesanan. Lama ku tunggu sang pangeran
berkacamata itu belum datang juga padahal aku telah menghabiskan semangkuk mie
ayam dan milk shake yang menjadi menu kesukaanku sambil duduk santai di sebuah
kursi.Tiba-tiba seseorang membuka pintu cafe dan berlari ke arahku secara
terburu-buru.
“key! Ikut
aku ayo! Cepetan!” ucap melani
tergesa-gesa menarik tanganku.
“ada apa?
Tapi.. tapi rezky sebentar lagi kesini..” ucapku ragu.
“key! Cepat
ikut aku” aku pun
mengikuti kata-katanya.
entah aku mau dibawa kemana olehnya. Sampai-sampai motornya ini dikendarai dengan kecepatan tinggi. Dan tiba-tiba berhenti di dekat keramaian orang-orang yang tak jauh dari cafe. Aku bingung apa maksud melani mengajakku kesini. Ia pun menarik tanganku lagi menuju pusat keramaian.Aku sempat lemas tak berdaya, aku sangat mati rasa, saat melihat sebuah kacamata yang kukenali itu berada di sisi wajah seorang lelaki yang terkulai diatas aspal dengan ditutupi koran-koran lusuh dengan darah-darah yang berceceran dimana-mana. Akupun menghampiri tubuh itu dan mulai meraba-raba tangan dan wajahnya yang sangat dingin, saat aku membukanya, sontak detak jantungku berhenti dan aku terdiam terpaku melihatnya. Air mata kini mengalir deras di pipiku dan tiada henti menggenggam tangannya yang sangat dingin itu serta dipenuhi dengan darah.
entah aku mau dibawa kemana olehnya. Sampai-sampai motornya ini dikendarai dengan kecepatan tinggi. Dan tiba-tiba berhenti di dekat keramaian orang-orang yang tak jauh dari cafe. Aku bingung apa maksud melani mengajakku kesini. Ia pun menarik tanganku lagi menuju pusat keramaian.Aku sempat lemas tak berdaya, aku sangat mati rasa, saat melihat sebuah kacamata yang kukenali itu berada di sisi wajah seorang lelaki yang terkulai diatas aspal dengan ditutupi koran-koran lusuh dengan darah-darah yang berceceran dimana-mana. Akupun menghampiri tubuh itu dan mulai meraba-raba tangan dan wajahnya yang sangat dingin, saat aku membukanya, sontak detak jantungku berhenti dan aku terdiam terpaku melihatnya. Air mata kini mengalir deras di pipiku dan tiada henti menggenggam tangannya yang sangat dingin itu serta dipenuhi dengan darah.
“Rezky..
kenapa kamu malah pergi? Katanya berjanji gak akan pergi lagi?” tanyaku berbisik sambil terus
mencoba menahan tangis.
Ku perhatikan wajahnya yang sangat pucat, banyak
terdapat luka memar dan terdapat goresan di sisi bibirnya.seketika ambulans dan
polisi datang ke tempat yang ramai ini. Polisi terus saja berwawancara dengan
warga-warga.
“jalan ini
biasa sepi,sepertinya pemuda ini ugal-ugalan dijalan, terus menabrak trotoar
dan terjatuh.” Ucap salah
seorang warga.
dan ku lihat lagi, motor yang rezky kendarai memang ada di dekat trotoar. Setelah ku perhatikan luka-luka tadi, sepertinya ini bukan kecelakaan yang dibuatnya, tetapi dia dibunuh! Aku tahu, dia dibunuh!. Aku pun segera memotong pembicaraan itu.
dan ku lihat lagi, motor yang rezky kendarai memang ada di dekat trotoar. Setelah ku perhatikan luka-luka tadi, sepertinya ini bukan kecelakaan yang dibuatnya, tetapi dia dibunuh! Aku tahu, dia dibunuh!. Aku pun segera memotong pembicaraan itu.
“pak, saya seorang
reporter. Dia bukan kecelakaan akibat ugal-ugalan. Tetapi dia seperti di bunuh!
Lihat saja banyak luka memar di sekitar tubuhnya.” Ucapku sambil menunjukkan sebuah
kartu pengenal tanda anggota reporter stasiun televisi sambil menahan air mata
yang terus mengalir begitu saja.
Saat polisi
melakukan pemeriksaan dan membawa jenazah Rezky pergi, salah satu anggotanya
memberiku sebuah amplop yang di temukan di kantung jaketnya serta sebuah tas
ransel yang ia sering bawa.
“key, Happy
Anniversary 5th years ya.. Lima tahun sudah kita lalui hubungan ini. Tetapi aku
tidak pernah bosan untuk mencintaimu, bahkan bila tuhan memberiku kesempatan,
aku bisa selamanya mencintai kamu. Maaf selama empat tahun yang lalu aku tak
berada di sampingmu. Tapi setidaknya cinta kita sudah berjalan selama lima
tahun. Kau tak bosan kan?. Oh iya, aku belikan sebuah kalung istimewa untukmu
dan juga hadiah kamera SLR dariku. Aku harap kau tetap menyimpan barang-barang
ini. Aku akan tetap mencintaimu
selamanya dan aku mohon tetaplah mencintaiku bila aku sudah tak bisa lagi
berada disisimu key.. I love you so much. Tanda cinta, Rezky.”
Tanganku bergetar saat membaca surat itu. Akupun
segera membuka tas dan memeriksa isinya. Dan ternyata benar saja, Sebuah kotak
sedang dan kotak kecil ada di dalam tas itu. Saat ku buka kotak yang sedang,
dan ternyata benar saja ini sebuah kamera yang aku inginkan dua tahun yang
lalu. Air mata ku pun semakin menjadi, saat aku buka kotak yang kecil, terdapat
sebuah kalung dengan liontin berbentuk huruf “KR”. Dan tak lupa dengan secarik
kertas yang ada di dalam kotak kecil itu.
“K for
keisha.. R for Rezky, so? KR for Keisha-Rezky. Aku mohon pakailah kalung ini. I
love you forever my dear..”
dan saat itu aku tak bisa berhentikan aliran air mataku di pundak melani. Dan aku melihatnya juga menangis.
dan saat itu aku tak bisa berhentikan aliran air mataku di pundak melani. Dan aku melihatnya juga menangis.
Aku tak kuasa menaburi semua bunga-bunga yang dibawa
kak Rizqa diatas gundukkan tanah yang menancap sebuah batu nisan bertuliskan
nama ‘Rezky Satria Addison’.
Akupun tiada henti memeluk tanah dan mencium batu nisan itu.
Akupun tiada henti memeluk tanah dan mencium batu nisan itu.
“dia,
sebelumnya pamit dahulu pada ku..” ucap kak Rizqa memegang bahuku.
“maksudnya?”
“dia cerita
kepadaku, saat dia mengantarkan kamu pulang di hari perayaan setahun yang lalu,
seseorang mengincarmu , mengikuti mobil Rezky dan menanyakan tentang kamu pada
Rezky, aku sudah mengatakan padanya agar tidak berurusan dengan orang itu
tetapi ia menentang. Ia takut terjadi apa-apa denganmu. Seminggu yang lalu,
kejahatan orang itu semakin menjadi-jadi , ia mengancam Rezky dan Rezky selalu
menerima itu. Orang itu mengancam akan membahayakan kamu dengan teman
se-geng-nya. Rezky terima dirinya habis babak belur oleh orang-orang itu hingga
hari ini dia tak ada, dia sangat mencintai kamu key..” jelas kak Rizqa.
Aku tak kuasa menahan tangis. Rasa nya jantungku seperti
tertusuk oleh tombak yang sangat tajam.Tiba-tiba langit menjadi gelap berkelabu
dengan cepatnya menyelimuti hatiku dan mengubah seluruh hidupku, hujan turun
membasahi tanah yang ku pijaki. Aku harus menyaksikan cintaku terenggut tak
terselamatkan di hari istimewa yang aku tunggu, hari anniversary. Mengapa semua
jadi begini? Mengapa harus ada perpisahan yang terjadi diantara dia dan aku?
Aku akan selalu menanti sebuah keajaiban. Keajaiban yang bisa membuat kita
bersama kembali. Semua janji-janji dan mimpi-mimpi telah hilang, hatiku hancur
ber keping-keping tak kuasa menerima pahitnya ditinggal orang yang sangat ku
cintai. Ku biarkan senangku benari indah di udara dan membiarkan semua tahu
bahwa kematian tak bisa memadamkan dan mengakhiri sebuah cinta. Ingin rasanya
aku mengulang hari dan memperbaiki kenangan-kenangan yang telah di lalui. Apa
artinya hidup tanpa kekasih? Aku sudah lelah dengan semua ini. Janji dan mimpi
hanya menjadi sebuah harapan dan semua tinggal menyisakan kenangan.